“Sejak awal sampai sekarang (kemarin, red), kalau saya ingat-ingat cuman ada empat orang,” aku Suyanto, salah satu juru parkir di Jalan Dhoho Kota Kediri terkait pemberlakukan QRIS sejak 1 Januari lalu itu.
Suyanto berdalih sudah menawarkan pembayaran pakai QRIS kepada masyarakat. Namun, mayoritas memilih membayar secara tunai. “Nggak laku,” lanjutnya.
Hal serupa diungkapkan oleh Rochim, 53. Jukir yang berjaga di depan Grand Surya hotel itu justru belum sekali pun memindai QRIS. “Ya nggak ada yang nanya ini (barcode QRIS, red) apa,” lanjutnya tentang kartu QRIS yang dikalungkan itu.
Hal serupa diungkapkan oleh Rochim, 53. Jukir yang berjaga di depan Grand Surya hotel itu justru belum sekali pun memindai QRIS. “Ya nggak ada yang nanya ini (barcode QRIS, red) apa,” lanjutnya tentang kartu QRIS yang dikalungkan itu.
Diakui Rochim, pemakaian QRIS di parkir pinggir jalan sedikit ribet. Sebab, pemindaian butuh waktu lama. Sehingga, jukir kehilangan momen untuk menarik parkir. “Kalau di gedung mungkin tepat. Kalau di sini kan terus bergulir. Belum selesai pembayarannya, orang yang parkir lainnya sudah pergi,” terangnya.
Kelemahan lainnya, barcode di kartu rawan luntur saat hujan. Pasalnya, di kartu bagian atasnya terbuka sehingga air pun bisa masuk. Karena alasan itu pula, jukir sering memasukkan barcode QRIS ke dalam saku. “Nanti kalau ada yang bayar pakai ini ya dikeluarkan,” imbuh Suyanto. (red.siTri)

0 Komentar