Breaking News

PKB Nilai Kesepakatan Dagang RI–AS Dongkrak Daya Saing Indonesia di Tingkat Global

  



JAKARTA – Wakil Ketua Umum DPP Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Faisol Riza menilai perjanjian dagang antara Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump melalui skema Agreement on Reciprocal Trade (ART) sebagai langkah strategis yang memperkuat posisi Indonesia dalam peta perdagangan global.

Menurut Faisol, kesepakatan bilateral tersebut membuka peluang percepatan hilirisasi mineral nasional yang selama ini terkendala investasi, teknologi, dan akses pasar. Salah satu potensi yang disorot adalah pengolahan pasir silika sebagai bahan baku utama industri semikonduktor. Dengan kerja sama ini, Indonesia dinilai berpeluang masuk lebih dalam ke rantai pasok industri teknologi tinggi dunia.

Ia menjelaskan bahwa pasir silika memiliki peran vital dalam produksi chip dan semikonduktor. Melalui kemitraan dagang dengan Amerika Serikat, Indonesia tidak hanya berpotensi menjadi pemasok bahan baku, tetapi juga mendorong industrialisasi di dalam negeri melalui peningkatan nilai tambah sumber daya alam.

Menanggapi anggapan bahwa perjanjian tersebut bukan hal baru karena Indonesia telah terlibat dalam berbagai kerja sama seperti ASEAN Free Trade Area (AFTA), ASEAN-China Free Trade Area (AC-FTA), hingga World Trade Organization (WTO), Faisol justru menilai pendekatan bilateral memberi ruang yang lebih fleksibel. Skema bilateral memungkinkan evaluasi dan renegosiasi yang lebih cepat jika terdapat klausul yang dinilai merugikan kepentingan nasional.

Ia juga memastikan perjanjian tersebut tidak akan mematikan industri dalam negeri maupun pelaku industri kecil dan menengah (IKM). Pemerintah, kata dia, telah mengatur agar produk nasional tidak berhadapan langsung dengan produk Amerika di pasar domestik. Bahkan, sebanyak 1.819 pos tarif produk Indonesia kini memperoleh fasilitas tarif nol persen ke pasar AS, dari sebelumnya dikenakan bea masuk 8–12 persen.

Faisol menambahkan, sektor tekstil, furnitur kayu, karet, hingga berbagai produk IKM diproyeksikan mendapat manfaat besar dari akses pasar tersebut. Terkait komitmen impor tertentu, termasuk beras khusus dari AS, ia menilai volumenya relatif kecil dan tetap disesuaikan dengan kebutuhan dalam negeri. Menurutnya, strategi dagang ini mencerminkan pendekatan berimbang—membuka peluang ekspor sekaligus menjaga kepentingan industri nasional—serta menempatkan Indonesia sebagai pemain penting dalam rantai pasok global.

0 Komentar

© Copyright 2022 - Pena Nasional News